Sekilas Informasi :
Tampilkan postingan dengan label Kisah dan sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah dan sejarah. Tampilkan semua postingan

Menjelang Wafat, Imam Syafi’i Membaca Syair Ini Sambil Menangis

Jumat, 20 Maret 2015 | 0 komentar


Imam Syafi’i adalah seorang ulama besar yang sulit dicari tandingannya pada zaman itu hingga zaman sekarang. Selain ilmunya luas dan dalam, amal ibadahnya juga luar biasa.
Namun, imam yang memiliki nama asli Muhammad bin Idris itu tak pernah membanggakan diri. Apalagi ketika sakit dan merasa ajal semakin dekat. Ketika itu Al Muzani menemui Imam Syafi’i.
“Wahai Abu Abdillah, bagaimana kondisimu?” tanya Al Muzani.
“Aku akan pergi meninggalkan dunia,” jawab Imam Syafi’i, “akan meninggalkan saudara-saudaraku, akan bertemu dengan amal burukku, akan kembali kepada Rabbku. Aku tidak tahu apakah ruhku akan ke surga hingga mengucapkan selamat kepadanya. Atau ke neraka hingga aku mengucapkan duka cita padanya”
Setelah itu, sambil menangis Imam Syafi’i bersyair:

Ketika hatiku keras dan jalanku sempit
Aku jadikan harapanku tanpa ampunan-Mu berserah
Dosaku sangat besar ketika aku menyertainya
Dengan ampunanMu wahai Tuhanku, ampunan-Mu lebih besar
Engkaulah yang mengampuni segala dosa
Engkau mahabaik dan memaafkan

Jika Imam Syafi’i saja merasa banyak dosa, bagaimana dengan kita? Padahal Imam Syafi’i biasa membagi malamnya menjadi tiga bagian; sepertiga untuk menulis (karenanya lahirlah Al Umm, Ar Risalah, dan lebih dari 100 kitab lainnya), sepertiga untuk shalat malam, dan sepertiga untuk tidur.
Jika Imam Syafi’i saja khawatir masuk neraka, bagaimana dengan kita? Padahal Imam Syafi’i biasa puasa sunnah dan tilawah. Beliau juga zuhud dan qanaah. Soal kedermawanan, Imam Syafi’i di zamannya adalah orang yang paling banyak bersedekah.

Imam Syafi’i dikenal hidup sangat sederhana. Tidak jarang ia kehabisan bekal untuk satu hari itu. Namun begitu ia memiliki harta, ia segera membagi-bagikannya. Pernah suatu hari seseorang menyampaikan amanah sekantung uang kepada Imam Syafi’i yang hendak pergi ke masjid. Tiba-tiba sebelum masuk masjid ada seorang laki-laki yang menghentikannya. “Tolonglah aku wahai Imam, istriku hendak melahirkan dan aku tidak memiliki apa-apa,” pintanya dengan suara mengiba. Maka tanpa pikir panjang, Imam Syafi’i langsung memberikan kantung berisi uang tersebut kepada laki-laki itu.

Ya Allah… ampuni kami jika selama ini kami lalai. Ampuni kami yang banyak dosa ini tetapi merasa seperti tak punya dosa kecuali dosa-dosa kecil yang mudah terampuni. Ampuni kami jika tak bisa menangis atas banyak dosa yang kami lakukan; siang dan malam. Atau justru karena terlalu banyak dosa hingga hati kami mengeras dan tak sanggup mencairkan air mata lagi. Ampuni kami… [Muchlisin BK/kisahikmah.com]
Continue Reading

SARIFUDIN KHALIFAH DARI AFRIKA UTARA

Minggu, 20 Juli 2014 | 0 komentar

Hai sahabat BRIGRATION sudah lama saya tak posting-posting artikel di blog ini . nah kali ini admin mau berbagi cerita tentang ANAK DARI AFRIKA (ARUSHA) YANG LAHIR DARI keluarga KRISTIAN dan MENGISLAMKAN RIBUAN ORANG serta pada  Usia 1.5 Tahun sudah Hafal Qur'an dan Injil mari kita simak ceritanya di kutip dari nasehatislam.com

-------------- Dari Afrika usia 1.5 Tahun sudah Hafal Al-Qur'an dan terlahir dari keluarga kristian(Non Muslim), Islamkan Ribuan Orang(subhanallah) -----------------------------------------------------

Sebuah kenyataan yang membuktikan kekuasaan Alloh telah terjadi di kota kecil Arusha di Utara Tanzania Afrika Timur. Lahirnya seorang anak, bernama Syarifuddin Khalifah dalam usia 1.5 telah hapal al-Quran di luar kepala padahal terlahir dari keluarga Kristen Katolik. Bapaknya bernama  Francis Fundinkira sedang ibunya bernama Domisia Kimaro. Tidak hanya itu, anak ini dalam usia 1 bulan sudah bisa bicara, di usia 1.5 tahun bisa melaksanan sholat 5 waktu tanpa ada yang mengajarinya. Menguasai bahasa asing saat umur 5 tahun. Dan telah mengislamkan ribuan orang.

Kenyataan ini sungguh di luar logika. Namun, bagi seorang muslim. Inilah tanda kekuasaan Alloh. Alloh adalah Dzat yang maha Kuasa dan Berkehendak. Dan Islam adalah agama yang paling benar dan diridhoi oleh Alloh SWT.

Apa sajakah keajaiban yang terjadi yang membuktikan ke-Maha Kuasaan Alloh SWT itu?. Keajaiban itu adalah sebagai berikut:

Saat umur 1 bulan, ketika dibawa ibu dan ayahnya ke gereja untuk dibaptis beberapa meter sebelum sampai di gereja anak itu bisa bicara: “Ibu jangan baptis aku, aku adalah orang yang beriman kepada Alloh dan rosulnya yaitu Muhammad”.
Kata-kata anak ini benar-benar membuat bulu kunduk mereka merinding, mereka gemetar dan saling memandang dalam kebingungan dan tidak percaya apa yang didengarnya dari anak mereka ini. Saking gemetarnya berduapun kembali ke rumah dan tidak jadi membaptis anak mereka tersebut.

Ketika umur 2 bulan, bayi melarang ibunya untuk menyusuinya dengan cara bayi itu tidak mau disusui ibunya. Sampai-sampai konsultasi ke dokter spesialis anak ternyata anak tersebut dalam keadaan sehat walafiyat. Tapi mengapa tidak mau disusui.

Kalimat pertama yang diucapkan ketika 4 bulan, adalah QS Al-Baqoroh 54 “Maka bertaubatlah kepada Tuhan yang menjadikan kamu, dan bunuhlah dirimu. Hal itu adalah lebih baik bagimu pada sisi tuhan yang menjadikan kamu, maka Alloh akan menerima taubatmu. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang”.

Dengan kalimat tersebut kedua orang tua dan semua yang hadir dari beberapa orang tetangga hanya bisa saling memandang dan takjub serta kebingungan. Mereka tidak faham bahasa yang diucapkan oleh bayi tersebut, karena bukan bahasa Inggris atau Kiswahili. Saking bingungnya dengan kondisi itu beberapa yang hadir ada yang mengatakan bahwa bayi itu karasukan setan / sejenis ruh jahat. Maka Domisia meminta suaminya untuk memanggil pendeta dari gereja terdekat untuk mendoakan anaknya yang menurut mereka sedang kerasukan setan/ruh hajat itu. Ternyata setelah pendeta itu datang, tidak sanggup mengusir setan dari tubuh anak kecil yang mungil itu.

Akhirnya, ada tetangga yang muslim, bernama  Abu Ayyub mencoba untuk datang dan membantu keluarga itu untuk mengusir setan/roh jahat itu. Ternyata ketika berhadapan dengan bayi itu, ia mengucapkan kalimat yang sama. Abu Ayyub tersungkur beberapa saat dengan sujud syukur, karena Alloh telah memberi kenikmatan dan keajaiban kepada hamba-Nya yang masih bayi itu bisa hafal ayat al-Quran dari kalangan non muslim dengan bacaan yang sangat fasih dan tartil.  Lalu Abu Ayyub berkata kepada Francis dan Domisia: “Anak kalian sesungguhnya tidak kerasukan setan/roh jahat. Apa yang dibacakan oleh anak kalian itu adalah ayat-ayat suci Alloh SWT”. Intinya, anak kalian mengajak kalian untuk bertaubat kepada Alloh, beriman kepada-Nya, melakukan shalat & ,menunaikan zakat sesuai perintah-Nya, niscaya Alloh akan mengampuni dosa-dosa kalian. Hanya itu yang bisa saya katakan. Yakinlah, anak kalian tidak kerasukan setan. Besok akan saya bawakan kita suci al-Quran agar kalian percaya bahwa yang diucapkan anak kalian adalah ayat suci Alloh SWT.

Setelah itu, Francis dan Domisia selalu merenung dan berfikir untuk menetukan sikap. Apakah segera masuk Islam, atau tetap pada agama dan keyakinan mereka. Walhasil, setelah proses berfikir dan menerung yang panjang, serta hidayah Alloh SWT, maka kedua orang tua bayi itu mempunyai keinginan untuk masuk Islam. Betapapun berat pergulatan batin yang dirasakan Francis dan Domisia, namun mereka meyakini bahwa harus ada keputusan terbaik yang harus mereka ambil secepatnya sebagai keputusan final dalam kehidupan mereka.

Kalimat-kalimat aneh yang dikatakan anaknya, kini berusaha mereka dengarkan dengan seksama. Kalimat yang mereka anggap karena kerasukan syetan itu ternyata begitu menyejukkan hati mereka. Kebenaran tidak akan pernah membuat orang sedih dan menderika. Kebenaran pasti akan mendekatkan orang dengan kebahagiaan dan ketenangan. Bagitulah yang dirasakan Francis dan Domisia. Setelah beberapa lama berdiskusi, merenung, dan merasakan berbagai macam hal, dengan keyakinan penuh dan tanpa ada paksaan dari siapapun, Francis dan Domisia mendatangi rumah Abu Ayyub yang pernah ke rumah mereka.

Sesampai di rumah Ayub mereka disambut laksana keluarga sendiri. Ayub merasa bahagia dengan kedatangan Francis dan Domisia. Sesudah mereka berbicara banyak hal mengenai Syarifudin, tiba-tiba Francis terdiam. Dia hendak mengatakan sesuatu, matanya menatap Ayub seraya berkata: “ Ustadz kami ingin memeluk agama Islam”. Maka Ayub dengan rasa haru, memandang Fransis dengan hingar bingar penuh kebahagiaan, seraya memeluk Francis erat-erat. Sesaat kemudian bertanya kepada Francis: ” Apakah kamu yakin memilih Islam sebagai agamamu, Alloh SWT sebagai Tuhanmu dan Nabi Muhammad SAW sebagai nabi dan rosulmu?. Dia jawab, “Ya, kamii yakin”.

Akhirnya Ayub mengajaknya dan istrinya untuk pergi ke mesjid terdekat, menemui imam mesjid Ust Nur Ismail. Dan setelah sholat Dhuhur dilakukan pengislaman untuk keduanya. Setelah keduanya membaca syahadat dan mengikuti tausyiah ustadz Nur Ismail, semua jamaah menyalami dan memeluk Francis seraya bertakbir. Allohu Akbar.

Setelah Fransis dan Domisia menjadi muslim, mereka benar-benar telah menjadikan kehidupan mereka bermakna ibadah dan penghambaan kepada Alloh. Mereka bukan hanya rajin beribadah tetapi juga bertawakal atas segala sesuatu yang diberikan Alloh kepada mereka. Keduanya semakin gigih dan semakin melaksanakan perintah agama Islam, sehingga menemukan kebenaran yang sesuai dengan hati nuraninya setelah melalui proses dari keajaiban putranya itu.

Begitulah kuasa Alloh SWT pada hamba-hambanya. Dia, maha berkehendak dan maha menjadikan segala kehendak-Nya. Tidak ada yang tidak mungkin bagi-Nya, karena Dia pencipta segala sesuatu. Umur 1.5 tahun Syarifudin sudah hafal al-Quran 30 Juz dengan fasih sebagaimana layaknya orang dewasa pada umumnya, subhannalloh. Keajaiban ini membuat banyak orang terkagum-kagum dan hampir hampir tidak percaya. Allohu Akbar.

Sebagai bahan perbandingan. Anak kecil berusia 5 tahun sudah hafal al-Quran dan faham maknanya. Namanya Muhammad Hussein Tabataba’i, ayahnya Muhammad Mahdi Tabataba’i dari negara Iran. Dia juga dikenal dengan julukan Doctor Cilik.

Dia (Husein) secara teratur tiap hari mengulang-ngulang pelajaran al-Quran yang diberikan kedua orang tuanya. Bahkan setelah berhasil menghafal al-Quran dia secara teratur membaca 1 halaman buku tafsir al-Quran. Dia terbimbing sejak masa kehamilan sampai dengan lahir secara intensif, maka wajar dia hafal dengan baik di saat usia 5 tahun, walau hal ini tidak semua orang bisa melakukannya.

Namun, untuk Syarifudin tidak seperti Hussein, dia tidak belajar dan tidak diajari karena orang tuanya beragama kristen di saat dia belum lahir dan sesudah lahir saat itu. Dan bahkan anehnya pula, dia tidak hanya hafal al-Quran 30 juz, tapi dia juga mampu menghafal Injil secara lengkap dengan baik.  Apa yang terjadi dengan Syarifuddin sungguh berbeda dengan yang terjadi pada Husein. Sebagian orang meyakini bahwa ilmu yang dimiliki Syarifuddin adalah ilmu Laduni (Ilmu yang merupakan anugerah dari Alloh SWT kepada hambanya yang dikehendaki-Nya tanpa melalui proses belajar).   Wallohu A’lam bishshowaab…
SILAHKAN SIMAK VIDEONYA


Continue Reading

Sejarah Berdirinya Pesantren Al-Ishlah Tajug Sudimampir

Sabtu, 07 Juni 2014 | 0 komentar

SEJARAH PENDIRIAN
Sebelum dikenalnya Blok Tajug seperti sekarang ini, yakni terdapat Pesantren Al-Ishlah Tajug, pada beberapa dekade yang lalu telah dikenal terlebih dahulu adanya sebuah pesantren kuno. Dahulu kala ada seorang tokoh kyai yang termasyhur, Ki Buyut Sholeh, yang banyak menyedot simpatik masyarakat sehingga banyak masyarakat yang ikut menuntut ilmu agama dari beliau. Karena itu, berdirilah pemondokkan-pemondokkan kecil yang dibangun secara mandiri oleh santri yang menuntut ilmu kepada sang kyai. Pondok-pondok kecil mereka dirikan sebagai tempat mereka mukim seyampang mereka belajar agama di Blok ini.
Tergugah oleh memori tersebut, para tokoh masyarakat dan sesepuh Blok Tajug berkeinginan agar kiranya apa yang telah terukir dahulu dapat ditapaktilasi. Dengan keinginan tersebut serta didorong oleh cita-cita luhur berupa memajukan pendidikan islami di wilayah ini khususnya dan bagi masyarakat Indramayu pada umumnya, maka para sesepuh masyarakat menyatukan tekad untuk berupaya agar kiranya di Blok ini dapat berdiri suatu lembaga pendidikan islami yang mampu mencetak generasi muda islami yang tangguh seperti yang telah diawali oleh pendahulu mereka.
Oleh sebab itu, pada suatu hari, yaitu hari Ahad, 4 Rabiul Awal 1422 H/27 Mei 2001, diselenggarakanlah suatu rapat bersama di kediaman (Alm) H. Salman Alfarisi, yaitu salah seorang tokoh masyarakat di Blok Tajug ini. Rapat bersama ini dihadiri oleh K.H. Imam Mawardi Hakiem, Ust. Muhammad Basuki Adnan, S.Ag. serta para sesepuh Blok Tajug. Agenda rapat pada waktu itu adalah penyerahan wakaf secara resmi kepada pihak yang diamanati, yaitu K.H. Imam Mawardi Hakiem dan Ust. Muhammad Basuki Adnan, S.Ag. Wakaf yang diserahterimakan berupa lahan seluas 4000 m2, 1 bangunan mushola, 2 gedung dengan 7 lokal di dalamnya (4 lokal dalam kondisi baik dan 3 lokal dalam kondisi belum jadi/belum selesai dibangun). Wakaf tersebut diamanatkan agar kiranya dapat didirikan lembaga pendidikan pesantren di dalamnya. Mereka menamakan pesantren ini dengan nama “Pesantren Al-Ishlah Tajug”.
Kaitannya dengan keputusan tersebut, dibentuklah sebuah susunan pengurus pesantren, serta diputuskan bahwa tanggal 1 Juli 2001 adalah sebagai hari jadi pesantren.
Kemudian rapat dilanjutkan pada hari Selasa, 6 Rabiul Awal 1422 H / 29 Mei 2001 di tempat yang sama. Agenda acara pada rapat kedua tersebut adalah pendirian yayasan. Yayasan yang telah terbentuk tersebut mereka beri nama “Yayasan Al-Ishlah Tajug”.
Dengan telah terbentuk dan tersusunnya perangkat utama sebuah organisasi lembaga, maka lembaran langkah selanjutnya adalah dibukanya pendaftaran santri baru untuk pertama kalinya. Santri baru perdana yang terserap adalah sebanyak 19 santri putra dan 19 santri putri. Adapun guru pembimbing sebanyak 9 orang guru, 6 ustadz dan 3 ustadzah.
Inilah gambaran secara singkat akan sejarah berdirinya Pesantren Al-Ishlah Tajug ini. Dari pemaparan akan sejarah singkat ini, dapatlah tergambarkan bahwa Pesantren Al-Ishlah Tajug berdiri hanyalah bermodalkan tekad dan niat yang luhur. Adapun fasilitas yang ada untuk dikelola sangatlah minim, apalagi bila kita bandingkan dengan fasilitas yang telah dimiliki sekarang. Sungguh suatu perkembangan yang sangat menggembirakan. Semoga yang akan datang, lembaga pendidikan ini semakin berkembang pesat. Amin.

Sumber = http://alishlahtajug.wordpress.com/sejarah-pendirian/
Continue Reading

Kisah SUnan Gunung Jati - Wali dari Cirebon

Kamis, 05 Juni 2014 | 0 komentar

1.       Asal Usul Sunan Gunung Jati


Dalam usia yang begitu muda Syarif Hidayatullah ditinggal mati oleh ayahnya. Ia ditunjuk untuk menggantikan kedudukannya sebagai Raja Mesir tapi anak yang masih berusia dua puluh tahun itu tidak mau. Dia dan ibunya bermaksud pulang ke tanah jawa berdakwah di Jawa Barat. Kedudukan ayahnya itu kemudian diberikan kepada adiknya yaitu Syarif Nurullah.
Sewaktu berada di negeri Mesir Syarif Hidayatullah berguru kepada beberapa ulam besar didaratan timur tengah. Dalam usia muda itu ilmunya sudah sangat banyak, maka ketika pulang ke tanah leluhurnya yaitu Jawa ia tidak merasa kesulitan melakukan dakwah.
2.       Perjuangan Sunan Gunung Jati
Sering kali terjadi kerancuan antara nama Fatahillah dengan Syarif Hidayatullah yang bergelar Sunan Gunung Jati. Orang menganggap Fatahillah dan Syarif Hidayatullah adalah satu, tetapi yang benar adalah dua orang. Syarif Hidayatullah cucu Raja Pajajaran adalah seorang penyebar Islam di Jawa Barat yang kemudian disebut Sunan Gunung Jati. Sedangkan Fatahillah adalah seorang pemuda Pasai yang dikirim Sultan Trenggana membantu Sunan Gunung Jati berperang melawan Portugis. Bukti bahwa Fatahillah bukan Sunan Gunung Jati adalah makam dekat Sunan Gunung Jati yang ada tulisan Tubagus Pasai adalah Fathullah atau Fatahillah atau Faletehan menurut Lidah Orang Portugis......

Syarif Hidayatullah dan ibunya Syarifah Muda’im datang ke negeri Caruban Larang Jawa Barat pada tahun 1475 sesudah mampir dahulu di Gujarat dan Pasai untuk menambah pengalaman. Kedua orang itu disambut gembira oleh Pangeran Cakrabuana dan keluarganya. Syekh Datuk Kahfi sudah wafat, guru Pangeran Cakrabuana dan Syarifah Muda’im itu dimakamkan di Pasambangan. Dengan alasan agar selalu dekat dengan makam gurunya. Syarifah Muda’im minta diizinkan tinggal di Pasambangan atau Gunung Jati.
Syarifah Muda’im dan puteranya Syarif Hidayatullah meneruskan usaha Syekh Datuk Lahfi. Sehingga kemudian hari Syarif Hidayatullah terkenal sebagai Sunan Gunung Jati. Tibalah saat yang ditentukan, pangeran Cakrabuana menikahkan anaknya yaitu Nyi Pakungwati dengan Syarif Hidayatullah. Selanjutnya yaitu pada tahun 1479 karena usia lanjut pangeran Cakrabuana menyerahkan kekuasaan negeri Caruban kepada Syarif Hidayatullah dengan gelar Susuhan yaitu orang yang dijunjung tinggi.
Disebutkan, pada tahun pertama pemerintahannya Syarif Hidayatullah berkunjung ke Pajajaran untuk mengunjungi kakeknya yaitu Prabu Siliwangi. Sang Prabu diajak masuk Islam kembali tetapi tidak mau. Meski Prabu Siliwangi tidak mau masuk Islam, dia tidak menghalangi cucunya menyiarkan agama Islam di wilayah Pajajaran.
Syarif Hidayatullah kemudian melanjutkan perjalanannya ke Serang. Penduduk Serang sudah ada yang masuk Islam dikarenakan banyaknya saudagar dari Arab dan Gujarat yang sering singgah ke tempat itu. Kedatangan Syarif Hidayatullah disambut baik oleh Adipati Banten. Bahkan Syarif Hidayatullah dijodohkan dengan puteri Adipati Banten yang bernama Nyi Kawungten. Dari perkawinannya inilah kemudian Syarif Hidayatullah dikaruniai dua orang putera yaitu Nyi Ratu Winaon dan Pangeran Sebakingking. Dalam menyebarkan agama Islam di tanah jawa, Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati tidak bekerja sendirian, beliau sering bermusyawarah dengan anggota para wali  lainnya di mesjid Demak. Bahkan disebutkan beliau juga membantu berdirinya mesjid Demak.
Dari pergaulannya dengan Sultan Demak dan para wali lainnya ini akhirnya Syarif Hidayatullah mendirikan Kesultanan Pakungwati dan ia memploklamirkan diri sebagai raja yang pertama dengan gelar Sultan. Dengan berdirinya Kesultanan tersebut Cirebon tidak lagi mengirim upeti kepada Pajajaran yang biasanya disalurkan lewat Kadipaten Galuh.
Dengan bergabungnya prajurit dan perwira pilihan ke Cirebon maka makin bertambah besarlah pengaruh Kesultanan Pakungwati. Daerah-daerah lain seperti: Surakanta, Japura, Wanagiri, Telaga dan lain-lain menyatakan diri menjadi wilayah Keslutanan Cirebon. Lebih-lebih dengan diperluasnya Pelabuhan Muara Jati, makin bertambah besarlah Kasultanan Cirebon. Banyak pedagang besar dari negeri asing datang menjalin persahabatan. Diantaranya dari negeri Tiongkok. Salah seorang keluarga istana Cirebon kawin dengan pembesar dari negeri Cina yang berkunjung ke Cirebon yaitu Ma Huan. Maka jalinan antara Cirebon dan negeri Cina makin erat.
Bahkan Sunan Gunung Jati pernah diundang ke negeri Cina dan kawin dengan puteri Kaisar Cina bernama puteri Ong Tien. Kaisar Cina pada saat itu dari dinasti Ming juga beragama Islam. Dengan perkawinan itu sang Kaisar ingin menjalin erat hubungan baik antara Cirebon dan negeri Cina, hal ini ternyata menguntungkan bangsa Cina untuk dimanfaatkan dalam dunia perdagangan.
Sesudah kawin dengan Sunan Gunung Jati, puteri Ong Tien diganti namanya menjadi Nyi Ratu Rara Semanding. Kaisar ayah puteri Ong Tien ini membekali puterinya dengan harta benda yang tidak sedikit. Sebagian besar barang-barang peninggalan puteri Ong Tien yang dibawa dari negeri Cina itu sampai sekarang masih ada dan tersimpan di tempat yang aman. Istana dan Mesjid Cirebon kemudian dihiasi lagi dengan motif-motif hiasan dinding dari negeri Cina.
Mesjid Agung Sang Ciptarasa dibangun pada tahun 1980 atas prakarsa Nyi Ratu Pakungwati atau isteri Sunan Gunung Jati. Dari pembangunan mesjid itu melibatkan banyak pihak, diantaranya Wali Songo dan sejumlah tenaga ahli yang dikirim oleh Raden Patah. Dalam pembangunan itu Sunan Kalijaga mendapat penghormatan untuk mendirikan Soko Tatal sebagai lambang persatuan umat. Selesai membangun mesjid, diteruskan dengan membangun jalan raya yang menhubungkan Cirebon dengan daerah-daerah Kadipaten lainnya untuk memperluas pengembangan Islam diseluruh tanah pasundan. Prabu Siliwangi hanya bisa menahan diri atas perkembangan wilayah Cirebon yang semakin luas itu. Bahkan wilayah Pajajaran sendiri sudah semakin terhimpit.
Pathak Warak menyumpah-nyumpah, hatinya marah sekali diperlakukan seperti itu. Apalagi dilihatnya para tamu undangan menertawakan kekonyolan itu, diapun semakin malu. Hampir saja Roroyono ditamparnya kalau tidak ingat bahwa gadis itu adalah puteri gurunya.
Pada tahun 1511 Malaka diduduki oleh bangsa Portugis. Selanjutnya mereka ingin memperluas kekuasaannya ke pulau jawa. Pelabuhan sunda kelapa yang jadi incaran mereka untuk menancapkan kuku penjajahan. Demak Bintoro tahu bahaya besar yang mengancam kepulauan nusantara. Oleh karena itu Raden Patah mengirim adipati Unus atau Pangeran Sabrang Lor untuk menyerang Portugis di Malaka. Ada salah seorang pejuang Malaka yang ikut ke tanah jawa yaitu Fatahillah. Ia bermaksud meneruskan perjuangannya di tanah jawa. Dan dimasa Sultan Trenggana ia diangkat menjadi panglima perang.
Pengalaman adalah guru yang terbaik, dari pengalamannya bertempur di Malaka tahulah Fatahillah titik-titik lemah tentara dan siasat Portugis. Itu sebabnya dia dapat memberi komando dengan tepat dan setiap serangan Demak-Cirebon selalu membawa hasil gemilang. Akhirnya Portugis dan Pajajaran kalah, Portugis kembali ke Malaka, sedang tentara Pajajaran cerai berai tak menentuk arahnya.
Selanjutnya Fatahillah ditugaskan mengamankan Banten dari gangguan para pemberontak yaitu sisa-sisa pasukan Pajajaran. Usaha ini tidak menemui kesulitan karena Fatahillah dibantu putera Sunan Gunung Jati yang bernama Pangeran Sebakingking. Dikemudian hari Pangeran Sebakingking ini menjadi penguasa Banten dengan gelar Pangeran Hasanuddin.
Kurang lebih sekitar tahun 1479, Sunan Gunung Jati pergi ke daratan Cina dan tinggal didaerah Nan King. Di sana ia digelari dengan sebutan Maulana Insanul Kamil.
Daratan Cina sejak lama dikenal sebagai gudangnya ilmu pengobatan, maka disanalah Sunan Gunung Jati juga berdakwah dengan jalan memanfaatkan ilmu pengobatan. Beliau menguasai ilmu pengobatan tradisional. Disamping itu , pada setiap gerakan fisik dari ibadah Sholat sebenarnya merupakan gerakan ringan dari terapi pijat atau akupuntur, terutama bila seseorang mau mendirikan Sholat dengan baik, benar lengkap dengan amalan sunah dan tuma’ninahnya. Dengan mengajak masyarakat Cina agar tidak makan daging babi yang mengandung cacing pita, dan giat mendirikan sholat lima waktu, maka orang yang berobat kepada Sunan Gunung Jati banyak yang sembuh sehingga nama Gunung Jati menjadi terkenal di seluruh daratan Cina.
Di negeri naga itu Sunan Gunung Jati berkenalan dengan Jenderal Ceng Ho dan sekretaris kerajaan bernama Ma Huan, serta Feis Hsin, ketiga orang ini sudah masuk Islam. Pada suatu ketika Sunan Gunung Jati berkunjung ke hadapan kaisar Hong Gie, pengganti kaisar Yung Lo dengan puteri kaisar yang bernama Ong Tien. Menurut versi lain yang mirip sebuah legenda, sebenarnya kedatangan Sunan Gunung Jati di negeri Cina adalah karena tidak sengaja. Pada suatu malam, beliau hendak melaksanakan sholat tahajjud. Beliau hendak sholat di rumah tetapi tidak khusu’ lalu beliau sholat di mesjid, di mesjid juga belum khusu’. Beliau heran padahal bagi para wali, sholat tahajjud itu adalah kewajiban yang harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Kemudian Sunan Gunung Jati sholat diatas perahu dengan khusu’. Bahkan dapat tidur dengan nyenyak setelah sholat dan berdo’a.
Ketika beliau terbangun beliau merasa kaget. Daratan pulau jawa tidak nampak lagi. Tanpa sepengetahuannya beliau telah dihanyutkan ombak hingga sampai ke negeri Cina. Di negeri Cina beliau membuka praktek pengobatan. Pendudu Cina yang berobat disuruhnya melaksanakan sholat. Setelah mengerjakan sholat mereka sembuh. Makin hari namanya makin terkenal, beliau dianggap sebagai sinshe yang berkepandaian tinggi terdengar oleh kaisar. Sunan Gunung Jati dipanggil keistana, kaisar hendak menguji kepandaian Sunan Gunung Jati sebagai tabib dia pasti dapat mengetahui mana seorang yang hamil muda atau belum hamil.
Dua orang puteri kaisar disuruh maju. Seorang diantara mereka sudah bersuami dan sedang hamil muda atau baru dua bulan. Sedang yang seorang lagi masih perawan namun perutnya diganjal dengan bantal sehingga nampak seperti orang hamil. Sementara yang benar-benar hamil perutnya masih kelihatan kecil sehingga nampak seperti orang yang belum hamil. Hai tabib asing, mana diantara puteriku yang hamil? Tanya kaisar.
Sunan Gunung Jati diam sejenak. Ia berdoa kepada Tuhan.
Hai orang asing mengapa kau diam? Cepat kau jawab! Teriak kaisar Cina.
Dia! Jawab Sunan Gunung Jati sembari menunjuk puteri Ong Tien yang masih Perawan. Kaisar tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban itu. Demikiann pula seluruh balairung istana kaisar.
Namun kemudian tawa mereka terhenti, karena puteri Ong Tien menjerit keras sembari memegangi perutya.
Ayah! Saya benar-benar hamil.
Maka gemparlah seisi istana. Ternyata bantal diperut Ong Tien telah lenyap entah kemana. Sementara perut puteri cantik itu benar-benar membesar seperti orang hamil.
Kaisar menjadi murka. Sunan Gunung Jati diusir dari daratan Cina. Sunan Gunung Jati menurut, hari itu juga ia pamit pulau ke pulau jawa. Namun puteri Ong Tien ternyata terlanjur jatuh cinta kepada Sunan Gunung Jati maka dia minta kepada ayahnya agar diperbolehkan menyusul Sunan Gunung Jati ke pulau Jawa.
Kaisar Hong Gie akhirnya mengijinkan puterinya menyusul Sunan Gunung Jati ke pulau Jawa. Puteri Ong Tien dibekali harta benda dan barang-barang berharga lainnya seperti bokor, guci emas dan permata. Puteri cantik itu dikawal oleh tiga orang pembesar kerajaan yaitu Pai Li bang seorang menteri negara. Lie Guan Chang dan Lie Guan Hien. Pai Li Bang adalah salah seorang murid Sunan Gunung Jati tatkala beliau berdakwah di Cina.
Dalam pelayarannya ke pulau jawa, mereka singgah di kadipaten Sriwijaya. Begitu mereka datang para penduduk menyambutnya dengan meriah sekali. Mereka merasa heran.
Ada apa ini? Pai Li Bang bertanya kepada tetua masyarakat Sriwijaya.
Tetua masyarakat balik bertanya. Siapa yang bernama Pai Li Bang?
Saya sendiri, jawab Pai Li Bang.
Kontan Pai Li Bang digotong penduduk diatas tandu. Dielu-elukan sebagai pemimpin besar. Dia dibawa ke istana Kadipaten Sriwijaya.
Setelah duduk dikursi Adipati, Pai Li Bang bertanya, sebenarnya apa yang terjadi?
Tetua masyarakat itu menerangkan. Bahwa adipati Ario Damar selaku pemegang kekuasaan Sriwijaya telah meninggal dunia. Penduduk merasa bingung mencari penggantinya, karena putera Ario Damar sudah menetap di Pulau Jawa. Yaitu Raden Fatah dan Raden Hasan.
Dalam kebingungan itulah muncul Sunan Gunung Jati, beliau berpesan bahwa sebentar lagi akan datang rombongan muridnya dari negeri Cina, namanya Pai Li Bang. Muridnya itulah yang pantas menjadi pengganti Ario Damar. Sebab muridnya itu adalah seorang menteri negara di negeri Cina.
Setelah berpesan begitu Sunan Gunung Jati meneruskan pelayarannya ke pulau jawa. Pai Li Bang memang muridnya. Dia semakin kagum dengan gurunya yang ternyata mengetahui sebelum kejadian, tahu kalau dia bakal menyusul ke pulau jawa. Pai Li Bang tidak menolak keinginan gurunya, dia bersedia menjadi adipati Sriwijaya. Dalam pemerintahannya Sriwijaya maju pesat sebagai kadipaten yang paling makmur dan aman. Setelah Pai Li Bang meninggal dunia maka nama kadipaten Sriwijaya diganti menjadi nama kadipaten Pai Li Bang, dalam perkembangannya karena proses pengucapan lidah orang Sriwijaya maka lama kelamaan kadipaten itu lebih dikenal dengan sebutan Palembang hingga sekarang.
Sementara itu puteri Ong Tien meneruskan pelayarannya hingga ke pulau jawa. Sampai di Cirebon dia mencari Sunan Gunung Jati, tapi Sunan Gunung Jati sedang berada di Luragung. Puteri itupun menyusulnya. Pernikahan antara puteri Ong Tien denga Sunan Gunung Jati terjadi pada tahun 1481, tapi sayang pada tahun 1485 puteri Ong Tien meninggal dunia. Maka jika anda berkunjung ke makam Sunan Gunung Jati di Cirebon jangan lah merasa heran disana banyak ornamen cina dan nuansa cina lainnya. Memang ornamen dan barang-barang antik itu berasal dari cina.
Wali songo selalu bermusyawarah apabila menghadapi suatu masalah pelik yang berkembang di masyarakat. Termasuk kebijakan dakwah yang mereka lakukan kepada masyarakat jawa.
Mula-mula sunan Ampel tidak setuju atas cara dakwah yang dilakukan Sunan Kalijaga dan Sunan Bonang. Namun Sunan Kudus mengajukan pedapatnya. Saya setuju dengan pendapat Sunan Kalijaga, bahwa adat istiadat lama yang masih bisa diarahkan kepada agama tauhid maka kita akan memberikannya warna Islami. Sedang adat dan kepercayaan lama yang jelas-jelas menjurus ke arah kemusyrikan kita tinggal sama sekali. Sebagai misal, gamelan dan wayang kulit, kita bisa memberinya warna Islam sesuai dengan selera masyarakat. Adapun tentang kekuatiran kanjeng Sunan Ampel, saya mempunyai keyakinan bahwa dibelakang hari akan ada orang yang menyempurnakannya.
Adanya dua pendapat yang seakan bertentangan tersbut sebanarnya mengandung hikmah. Pendapat Sunan Kalijaga dan Sunan Kudus ada benarnya yaitu agar Islam cepat diterima oleh orang jawa, dan ini terbukti, dikarenakan dua wali tersebut pandai mengawinkan adat istiadat lama yang dapat ditolerir Islam maka penduduk jawa banyak yang berbondong-bondong masuk agama Islam. Pada prinsipnya mereka mau menerima Islam dengan lebih dahulu dan sedikit  demi sedikit kemudian mereka akan diberi pengertian akan kebersihan tauhid dalam iman mereka.
Sebaliknya, adanya pendapat Sunan Ampel yang menginginkan Islam harus disiarkan dengan murni dan konsekuen juga mengandung hikmah kebenaran yang hakiki, sehingga membuat umat semakin berhati-hari menjalankan syariat agama secara benar dan bersih dari segala macam bid’ah. Inilah jasa Sunan Ampel yang sangat besar, dengan peringatan inilah beliau telah menyelamatkan aqidah umat agar tidak tergelincitr ke lembah musyrik.
 sumber : http://kisah-kisahwalisongo.blogspot.com/2012/01/sunan-gunung-jati.html
Continue Reading

Sejarah Desa Sudimampir

| 0 komentar


 
SEJARAH DESA SUDIMAMPIR
 Berawal dari adanya salah satu pendatang bernama Syekh Gagamg Aking berasal dari desa Gebang Cirebon. Syekh Gagang Aking mempunyai gelar ki Geden adalah seorang penganut kesultanan Cirebon, pada waktu itu beliau sebagai ki Geden di desa Gebang Cirebon.

Beliau menganggap bahwa pemerintahan sultan Cirebon dicemari oleh politik belanda. Maka beliau merasa dirinya kurang setuju atau tidak cocok dan merasa terjajah oleh belanda. Maka mudurlah beliau meninggalkan anak dan istri pergi berjalan memasuki hutan penjalin dan membuat sebuah tempat dan menanamkan sebuah tanaman pohon pilang dan tempat tersebut diberi nama "PILANG".

Setelah sekian lama Syekh Gagang Aking pergi meninggalkan anak dan istri, sang istri merasa kangeng dan ingin tahu keberadaannya dan kabar kepastiannya apakah masih hidup atau sudah mati. Akhirnya berkesimpulan untuk mencari keberadaannya. Berangkatlah tiga orang yaitu istrinya yang bernama Nyi Khasanah, putrinya yang bernama Nyi Ratna dan santrinya yang bernama Syekh Rosad. Akhirnya kemudian ditemukanlah di sebuah tempat dimana Syekh Gagang Aking membuat sebuah tempat yang bernama Pilang. Karena mereka kangen mereka saling berpelukan. Kemudian mereka membuat sebuah tempat baru yang bernama pagebangan karena mereka berasal dari Gebang dan membuat pondok pesantren di wilayah tersebut. Pesantren tersebut kedatangan dua orang bernama Abdul Muhyi dan Lestari (sebagai santri). Beberapa waktu kemudian pesantre tersebut kedatangan tamu dari kesultanan Cirebon dan di perintahkan untuk menghadiri undangan karena ada hal penting. Karena Syekh Gagang Aking sudah tua, maka beliau menyuruh santrinya yang bernama Abdul Muhyi untuk menghadap sultan Cirebon.
 
Dalam perjalanannya sang santri di bekali dua macam perbekalan yaitu: berupa merang satu gedeng dan berupa pusaka jenis tombak. Sepulangnya Abdul Muhyi diberi nama oleh gurunya dengan nama Nampa Subaya, karena dianggap sebagai penangkal bahaya, dan sekaligus dinikahkan dengan putrinya yang bernama Ratna Pengasih. Setelah Nampa Subaya dan Ratna Pengasih jadi suami istri, Lestari merasa iri hati, kemudian Lestari pulang ke Bagelen datang ke tempat orang tua Abdul Muhyi dan memberi tahu orang tuanya bahwa anaknya disana bukanlah mencari ilmu melainkan hanya mencari wanita dan dilaporkan pula bahwa Abdul Muhyi sudah menikah dengan anak gurunya dan sudah pula berganti nama dengan nama Nampa Subaya. Dengan adanya kabar tersebut, bapaknya marah dan memerintahkan putrinya yang bernama Labda Kuria untuk mencari (menyusuli) kakaknya sampai ketemu dengan petunjuk dari Lestari bahwa Abdul Muhyi ada di pesantren.

Dalam pencariannya, Labda Kuria merasa kelelahan dan berhenti istirahat di dalam hutan penjalin, sambil istipahat dia menengok ke arah barat dan melihat orang yang sedang membuat sumur dan ternyata orang tersebut adalah kakaknya yang sedang di cari. Maka bertemulah antara adik dan kakak. Kemudian adiknya dibawa ketempat istrinya, sambil istirahat kakaknya berbicara kepadanya bahwa dia sudah menikah dengan Ratna Pengasih dan dia juga berganti nama Nampa Subaya. Kemudian adiknya (Labda Kuria) berkata bahwa dirinya tidak mau pulang ke Bagelen dan mau ikut sama kakaknya sampai akhir hayat. Mendengar perkataan adiknya, akhirnya Nampa Subaya punya pikiran untuk berangkat dengan adiknya menuju tempat sumur alas penjalin dimana awal pertemuan kakak beradik tersebut. Kemudian disana melakukan/membuat lokasi/babad hutan dan disana pula Nampa Subaya dan Labda Kuria membagi hasil lahan/hasil babadnya. Karena kakaknya ikhlas dan adiknya sudi untuk mampir ke tempat kakaknya, maka jadilah nama Sudimampir dan menjadi nama sebuah desa. Dan nama Nampa Subaya sekarang dijadikan nama koperasi di desa Sudimampir.

POTENSI DESA SUDIMAMPIR
ü  Potensi sumber daya manusia masyarakat Sudimampir mayoritas sebagai petani dengan variatif padi, perkebunan dll.
ü  kebanyakan penduduk Sudimampir sebagai tenaga kerja keluar negeri.
ü  Sudimampir punya asset religi, yaitu terdapat pesantren sebagai pencetak manusia muslim berkualitas dan SDM yang siap pakai.
Continue Reading

Legenda Indramayu Bagian 2

Kamis, 29 Mei 2014 | 0 komentar

Baru tiga bulan Arya Wiralodra dan Ki Tinggil membabat hutan di lembah Sungai Cimanuk, datang gangguan. Ternyata, di Sungai Cimanuk ini terdapat kerajaan siluman dari hulu hingga ke hilir. Ada kerajaan besar dan ada pula kerajaan-kerajaan kecil di bawah kekuasaan kerajaan besar tersebut.

Sambungan dari : Legenda Indramayu bagian 1

Pulomas (Kerajaan Siluman di Indramayu)

 

Dalam kisah Ajisaka (Baca “Resi Wisaka”), terdapat kisah peperangan antara bangsa manusia dangan bangsa siluman dan berlanjut dengan persekutuan Kerajaan Madang Kamulan dengan kerajaan-kerajaan siluman, hingga muncullah Aji Saka. Begitu juga dalam kisah Bokor Kuningan pada era Kerajaan Sunda-Galuh, Resi Ajar Soka akan dieksekusi oleh Raja Kerajaan Galuh yang bersekutu dengan raja-raja siluman.
Demikian pula pada era akhir Pajajaran Hindu, konon Prabu Cakraningrat (Raja Kerajaan Galuh, bawahan Pajajaran Hindu) bersekutu pula dengan raja-raja siluman. Raja-raja siluman ini lebih banyak yang berkuasa di sepanjang Sungai Cimanuk.

Dalam Babad Alas Kali Cimanuk, dikisahkan perjuangan Arya Wiralodra dan pembantunya Ki Tinggil dalam mencari Sungai Cimanuk. Berkat pertolongan Ki Sidum dan Kidang (kijang) Kencana (yang sebenarnya adalah peliharaan Ki Sidum), akhirnya Sungai Citarum berhasil ditemukan.

Baru tiga bulan Arya Wiralodra dan Ki Tinggil membabat hutan di lembah Sungai Cimanuk, datang gangguan. Ternyata, di Sungai Cimanuk ini terdapat kerajaan siluman dari hulu hingga ke hilir. Ada kerajaan besar dan ada pula kerajaan-kerajaan kecil di bawah kekuasaan kerajaan besar tersebut.

Maharaja siluman di di hulu Sungai Cimanuk itu bernama Budipaksa. Mahapatihnya bernama Bujarawis. Maharaja Budipaksa ini membawahi raja-raja kecil, di antaranya Kerajaan Tunjungbong yang dipimpin Kalacungkring, Kerajaan Pulomas yang dipimpin Raden Werdinata, dan kerajaan-kerajaan alam gaib lainnya sampai kira-kira sebanyak 12 kerajaan.

Kehadiran Arya Wiralodra di hutan lembah Sungai Cimanuk telah meresahkan para bangsa siluman (kalangan bangsa jin dan makhluk halus lainnya) yang menetap di lembah sungai. Atas laporan telik sandi, Mahapatih Bujarawis mengadukannya ke Maharaja Budipaksa (yang berkuasa di hulu Sungai Cimanuk). Mendengar pengaduan dari mahapatihnya, Maharaja Budipaksa marah besar.

Secepatnya, Maharaja Budipaksa didampingi Mahapatih Bujarawis mendatangi Arya Wiralodra yang sedang membabat hutan didampingi Ki Tinggil.

Diawali dengan perdebatan, dan akhirnya terjadilah pertarungan di lembah Sungai Cimanuk. Maharaja Budipaksa berhadapan dengan Arya Wiralodra, sementara Mahapatih Bujarawis berhadapan dengan Ki Tinggil.

Konon, pertarungan berbeda alam itu berlangsung selama dua bulan alam manusia. Tentu saja hal ini membuat penduduk gaib di tempat itu bubar ketakutan. Berkat kesaktian Arya Wiralodra, Maharaja Budipaksa berhasil dilumpuhkan dan dikurung di dasar muara Sungai Cimanuk. Mahapatih Bujarawis berhasil melarikan diri.

Dikisahkan, Maharaja Budipaksa, sebelum akhirnya dilumpuhkan, memerintahkan Mahapatih Bujarawis supaya meminta bantuan para raja kecil bawahan Kerajaannya. Namun, sepuluh raja bawahan Maharaja Budipaksa beserta mahapatihnya dengan gampangnya dilumpuhkan oleh Raden Wiralodra dan Ki Tinggil. Hanya Raden Werdinata yang masih bertahan. Dia bertarung melawan Raden Wiralodra, sementara Mahapatih Jongkara maupun Panglima Kalasrenggi kabur dihajar ilmu pamungkas Ki Tinggil.

Karena punya kesaktian seimbang, pertarungan antara Raden Werdinata dengan Raden Wiralodra memakan waktu 11 bulan alam manusia. Senjata andalan Arya Wiralodra berupa cakra (dalam versi ini disebut Cakra Baswara, sementara versi lain menyebut senjata andalan Arya Wiralodra adalah Cakra Udaksana) ternyata mampu diatasi Raden Werdinata dengan menggunakan pusaka berupa tameng bernama Kopyahwaring. Padahal, senjata cakra andalan Arya Wiralodra itulah yang mampu melumpuhkan Maharaja Budipaksa. Tameng Kopyahwaring adalah pusaka turun temurun Kerajaan Pulomas.

Sebelum ada korban yang jatuh, muncul Kalacungkring, penguasa gaib Kerajaan Tunjungbong. Kalacungkring menyarankan pada Raden Werdinata supaya menghentikan pertarungan dan sebaiknya menjalin persaudaraan dengan Arya Wiralodra. Selain dengan dalih Maharaja Budipaksa sudah dikurung di dasar muara Cimanuk, alasan yang paling utama adalah karena ketakutan jika leluhur Arya Wiralodra tersinggung, baik dari kalangan manusia-manusia kuno Majapahit maupun leluhur Ki Gedeng Bagelen. Jika semuanya yang setingkat Ki Sidum murka, niscaya kerajaan alam gaib di sepanjang lembah Sungai Cimanuk dapat dibuat musnah untuk selama-lamanya.

Atas saran Kalacungkring, Raden Werdinata meminta Arya Wiralodra agar menghentikan pertarungan dan mengajak mengikat tali persaudaraan hingga ke anak cucu. Sebagai pengikat persaudaraan, Raden Werdinata menyerahkan putri kesayangannya bergelar Putri Inten untuk diperistri oleh Arya Wiralodra.

Setelah perdamaian itu, dengan dibantu para prajurit dan penduduk Pulomas, tugas mendirikan kerajaan di lembah Sungai Cimanuk lebih cepat selesai, dan Raden Wiralodra menjadi pemimpin pertama kerajaan di lembah sungai tersebut, yang hingga kini bernama Kabupaten Indramayu.

Sebagai bangsa jin yang diberi umur panjang, meski Arya Wiralodra telah wafat dan digantikan keturunannya bahkan sampai sekarang ini, Raden Werdinata masih hidup dan memimpin kerajaan Pulomas didampingi Mahapatih Jongkara. Sedangkan Panglima Kalasrenggi, setelah kabur dari hadapan Ki Tinggil kini menjadi pemimpin raja kecil di Rawabolang, masuk Desa Jatisura, Kecamatan Terisi, Kabupaten Indramayu.

Konon, Raden Werdinata kemudian menjadi Jin Islam pertama di Pulomas. Sebagian rakyatnya kemudian memeluk agama Islam juga. Namun sebagian lainnya masih tanpa agama atau menganut ajaran lama (animisme dan dinamisme). Bahkan beberapa di antaranya melakukan praktek persekutuan untuk orang yang mencari "pesugihan" di daerah itu.

Sebagai Jin Islam, Raden Werdinata lebih banyak khalwat di ruang pribadinya, ketimbang mengurusi pemerintahan. Raden Werdinata juga konsisten dengan ikatan persaudaraan dengan Arya Wiralodra meski saudaranya itu sudah wafat sejak ratusan tahun silam.

Konon, dalam dzikirnya, suatu malam Raden Werdinata mendapat petunjuk bahwa daerah Indramayu bakal diterjang ombak pemusnah (Tsunami). Tanpa banyak pertimbangan, dia menyudahi dzikirnya lalu mendatangi penguasa Pantai Utara.

Di hadapan Nyi Ratu Nawangwulan (namanya mengingatkan pada nama bidadari yang dinikahi Jaka Tarub), penguasa Pantai Utara, Raden Werdinata meminta supaya ombak pemusnah itu jangan sampai menerjang penduduk Indramayu. Jika ombak pemusnah itu sampai menerjang, dia mengancam untuk mengajak bertarung.

Meskipun sadar ilmu Nyi Ratu Nawangwulan jauh lebih tinggi, demi ikatan persaudaraan dengan Arya Wiralodra, dia rela mempertaruhkan nyawanya mati di tangan Nyi Ratu Nawangwulan.

Untungnya Nyi Ratu Nawangwulan bersedia memenuhi permintaannya, sehingga ombak pemusnah itu urung menerjang Indramayu dan berputar menerjang daerah Pangandaran, Kabupaten Ciamis.


 

Continue Reading

Legenda Indramayu Bagian 1

| 0 komentar

“Hai Arya Wiralodara, apabila engkau ingin berbahagia beserta keturunanmu kelak di kemudian hari, pergilah engkau ke arah matahari tenggelam. Dan carilah sungai Cimanuk. Manakala engkau telah tiba di sana berhentilah dan tebanglah hutan belukar secukupnya untuk sebuah pedukuhan dan menetaplah di sana”
---

Arya Wiralodra

Babad Alas Kali Cimanuk

Asal Mula Kabupaten Indramayu

 

Dalam legenda, babad, hikayat, dongeng dan cerita turun-temurun masyarakat Indramayu, pasti mengenal tokoh yang bernama [Raden] Arya Wiralodra. Arya Wiralodra konon berasal dari Bagelen, Jawa Tengah. Ayahnya adalah Tumenggung Dalem bernama Gagak Singalodra. Ibunya adalah Nyi Ageng Bagelen (putri Ki Gede Bagelen).

Sejak kecil Arya Wiralodra bercita-cita membangun suatu Negara untuk diwariskan kelak pada cucu-cucunya. Beranjak dewasa, cita-citanya makin mantap, hingga pada suatu masa Arya Wiralodra menjalankan tapa brata dan semedi di perbukitan melaya di kaki gunung Sumbing. Hari demi hari berlalu. Setelah tiga tahun barulah Arya Wiralodra mendapat wangsit.

“Hai Arya Wiralodara, apabila engkau ingin berbahagia beserta keturunanmu kelak di kemudian hari, pergilah engkau ke arah matahari tenggelam. Dan carilah sungai Cimanuk. Manakala engkau telah tiba di sana berhentilah dan tebanglah hutan belukar secukupnya untuk sebuah pedukuhan dan menetaplah di sana”

Berbekal wangsit tersebut, Arya Wiralodra berangkat didampingi abdinya Ki Tinggil. Mereka berjalan ke arah barat untuk mencari sungai Cimanuk. Suatu senja sampailah Arya Wiralodra dan Ki Tinggil di sebuah sungai yang amat besar. Arya Wiralodra mengira sungai itu adalah Cimanuk maka bermalamlah di situ.

Ketika fajar menyingsing, Arya Wiralodra dan Ki Tinggil terbangun oleh kehadiran seseorang. Orang tua itu menegur dan menanyakan tujuan mereka. Arya Wiralodra menjelaskan maksud dan tujuan perjalanan mereka.

Orang tua itu berkata “Hai cucuku, tuan telah tersesat, sungai ini bukan Cimanuk yang tuan cari, adapun Sungai Cimanuk telah terlewat yaitu terletak di sebelah timur, berjalanlah ke arah timur laut''

Setelah berkata demikian, orang tua tersebut lenyap. Konon, orang tua itu menurut riwayat adalah Ki Buyut Sidum, Kidang Penanjung dari Pajajaran. Ki Sidum adalah seorang panakawan tumenggung Prabu Sri Baduga (atau Prabu Siliwangi).


Arya Wiralodra dan Ki Tinggil melanjutkan perjalanan berbalik arah menuju timur laut. Setelah berhari-hari berjalan, akhirnya Arya Wiralodra melihat sungai besar. Mereka berhenti. Arya Wiralodra berharap sungai tersebut adalah Cimanuk.

Tiba-tiba dia melihat kebun yang indah namun pemilik kebun tersebut sangat congkak. Arya Wiralodra naik pitam tak kuasa mengendalikan emosinya. Ketika ia hendak membanting pemilik kebun itu, orang itu lenyap hanya ada suara, “Hai cucuku Wiralodra ketahuilah bahwa hamba adalah Ki Sidum dan sungai ini adalah Sungai Cipunegara, sekarang teruskanlah perjalanan ke arah timur, manakala menjumpai seekor kijang bemata berlian ikutilah. Di mana kijang itu lenyap maka itulah Sungai Cimanuk yang tuan cari. Kelak tuan membabat hutan Cimanuk, bertapalah, jangan tidur. Karena hal itu penting untuk kebahagiaan anak cucu tuan di kemudian hari".

Arya Wiralodra dan Ki Tinggil melanjutkan perjalan kembali ke arah Timur. Bertemulah Arya Wiralodra dan Ki Tinggil dengan seorang perempuan yang mengaku bernama Dewi Larawana atau Dewi Rara Wana yang memaksa untuk dipersunting Arya Wiralodra. Namun karena Arya Wiralodra menolaknya gadis itu marah dan menyerangnya.

Arya Wiralodra mengeluarkan cakranya. Diarahkan cakranya ke Dewi Larawana. Dewi Larawana lenyap barsamaan dengan munculnya seekor kijang. Senjata Cakra milik Arya Wiralodra berbeda nama pada tiap versi cerita. Dan tentunya jenis senjata milik Arya Wiralodra bukan hanya Cakra.

Arya Wiralodra segera mengejar kijang tersebut yang lari ke arah timur. Ketika kijang itu lenyap tampaklah sebuah sungai besar. Karena kelelahan, Arya Wiralodra tertidur dan bermimpi bertemu dengan Ki Sidum yang berkata, “Hai cucuku inilah hutan Cimanuk yang di cari, di sinilah kelak tuan bermukim".

Setelah ada kepastian lewat mimpinya itu Arya Wiralodra dan Ki Tinggil Segera membuat gubug dan membuka ladang. Arya Wiralodra dan Ki Tinggil menetap di sebelah barat ujung Sungai Cimanuk.

Akhirnya tersiarlah ke segenap pelosok bahwa di hutan Cimanuk telah berdiri sebuah pedukuhan. Pedukuhan Cimanuk tersebut makin hari makin banyak penghuninya pendatang terus berdatangan, diantaranya seorang wanita cantik yang membawa bibit- bibitan. Dia adalah Nyi Endang Darma seorang wanita paripurna yang kelak bersama-sama Arya Wiralodra mengembangkan Indramayu.

Karena kemahiran Nyi Endang Darma dalam ilmu kanuragan maka telah mengundang Pangeran Guru dari Palembang. Dia datang ke lembah cimanuk beserta 24 muridnya untuk menantang Nyi Endang Darma. Ternyata semuanya tewas, yang selanjutnya dikuburkan yang sekarang terkenal dengan Makam Selawe.

Dalam satu versi cerita, menyebutkan bahwa Nyi Endang Darma datang bersama 25 orang dari Palembang tersebut. Kemudian terjadi silang pendapat di antara mereka. Nyi Endang Darma dikeroyok tapi berhasil menang melawan 25 orang tersebut.

Pangeran Guru dari Palembang, konon masih keturunan dari sahabatnya Raden Fatah (Raja Kesultanan Demak Bintara). Saat kejadian itu, Arya Wiralodra sedang berkunjung ke orangtuanya di Bagelen. Ki Tinggil datang ke Bagelen untuk melaporkan kejadian tersebut.

Gagak Singalodra yang ikut mendengar laporan itu, merasa malu jika sampai berita ini terdengar oleh pihak Demak Bintara. Maka, Gagak Singalodra menyuruh Arya Wiralodra segera mengeksekusi Nyi Endang Darma.

Versi lain menyebutkan bahwa Nyi Endang Darma adalah penjelmaan Arya Wiralodra sendiri. Setelah kejadian tersebut, Arya Wiralodra segera minta pendapat ayahnya, Gagak Singalodra. Mengetahui kedekatan hubungan Pangeran Guru dengan Raden Fatah, disusunlah scenario sandiwara.

Arya Wiralodra kembali ke wujud Nyi Endang Darma. Sementara kedua adiknya, [Raden] Tanujaya dan [Raden] Tanujiwa, menyamar sebagai Arya Wiralodra dan pendekar Gagak Lumayung. Kemudian seolah-olah Arya Wiralodra memanggil dan minta penjelasan Nyi Endang Darma atas peristiwa pertikaian dengan 25 orang asal Palembang itu.

Nyi Endang Darma dijanjikan akan dinyatakan tak bersalah jika bisa menang secara jujur dalam tanding melawan pendekar Gagak Lumayung. Gagak Lumayung pura-pura kalah. Dan penyamar Arya Wiralodra pura-pura penasaran dan ingin menjajal ilmu juga. Namun sebelumnya, Nyi Endang Darma dinyatakan tidak bersalah dalam peristiwa itu sesuai janji.

Arya Wiralodra yang asli, yang menyamar sebagai Nyi Endang Darma, pura-pura kewalahan melawan adiknya yang menyamar sebagai Arya Wiralodra. Kemudian Arya Wiralodra dalam penyamaran Nyi Endang Darma melarikan diri dan mencebur ke Sungai Cimanuk. Penyamar Arya Wiralodra pura-pura tak bisa mengejar.

Penyamar Arya Wiralodra pura-pura sedih dan memanggil-manggil Nyi Endang Darma dengan teriakan "Darma Ayu!" berulang-ulang. Namun Nyi Endang Darma telah menghilang entah ke mana.

Berikutnya, nama Darma Ayu (Nyi Endang Darma) selalu melekat di Pedukuhan Cimanuk. Bahkan Dukuh Cimanuk, kemudian berganti nama menjadi Darma Ayu atau Derma Ayu atau Dermayu. Belakangan disebut Indramayu, namun kalangan sepuh masih menyebutnya Dermayu atau Derma Ajeng atau Dermajeng. Bahkan pada logo Kabupaten Indramayu, tertera nama "Darma Ayu"


Continue Reading

Sahabat Anda Menuju baitullah

Sahabat Anda Menuju baitullah
Rabbani Tour
 
Support : Al-Ishlah Tajug | Alumni 2008 | Master Blog
Copyright © 2014. Brilliant graduate association - All Rights Reserved
Ajang Silaturahmi Para Alumni |Al-Ishlah Tajug
Proudly powered by Blogger